Cerpen tema Lingkungan
“Tersenyumlah Bumiku”
Terlihat dari jauh kabut pucat yang
menyelimuti dataran basah itu, dan matahari pagi pun mulai memancarkan
sinarnya. Pada saat itu, aku sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Di
sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh liar bagai peri-peri kecil
yang sedang menemaniku, serta berjatuhan daun-daun kering dari pohon tempat aku
berteduh. Aku tak bisa menahan rasa untuk menghirup aroma pagi yang segar.
Lalu mataku menerka lebih jauh, kulihat tempat
di ujung pepohonan sana sangat berbeda. Di sana terdapat asap pucat yang mengepul tinggi seakan ingin
menutupi awan putih di langit. Ternyata baru kusadari asap pucat tersebut
berasal dari pabrik industri yang
baru-baru ini selesai dibangun dan mulai ber-operasi. Aku ingat ibuku pernah
berkata, “Mereka telah mengambil lingkungan kita yang asri, Mita! Tanpa
memikirkan akibat yang akan terjadi”. Iya, mereka memang tidak pernah
memikirkan akibat dari perbuatan yang merusak keasrian lingkungan, mereka hanya
ingin mendapatkan kekayaan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada suatu saat yang
akan datang. Tidakkah mereka sadari? walaupun diam, tetapi sebenarnya
tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis meratapi polusi-polusi yang
datang untuk membunuh mereka. Berbagai bencana alam yang datang itulah bukti
dari kemarahan mereka. Bukankah kita telah berhutang budi pada alam? sebenarnya
kita harus merawat lingkungan alam dengan baik, agar tetap terawat sepanjang
masa.
Aku ingat pada beberapa bulan yang lalu,
ketika bumi dilanda kemarau panjang dengan disertai kabut asap yang
menyelubungi alam. Saat itu manusia tidak
dapat melakukan apa-apa, asap kotor yang dapat merusak pernapasan adalah
masalah yang harus dihadapi selama berhari-hari. Manusia tak dapat menghirup
udara bersih, bumi terasa panas, serta hewan-hewan pun juga ikut merasakannya.
Langit telah bagaikan tempat gas pembuangan yang mengapung di atmosfer, tidak
sedikit pun udara segar yang yang tercium.
Tak terasa hari demi hari pun berjalan
dengan cepatnya, ternyata hal yang telah
ku prediksi pun terjadi. Saat ini di
desaku tiba-tiba dilanda kemarau panjang. Hujan tak kunjung datang untuk
menbasahi tanah, udara kotor dimana-mana, debu pun sudah bagaikan deburan ombak
di pantai. Alam seakan sedang melampiaskan kemarahannya. Inilah akibat dari
ulah manusia pembuat polusi itu, Apakah
mereka tidak sadar? Sedikit demi sedikit alam sedang menunjukkan kemarahannya.
Telah berhari-hari di desaku mengalami cuaca seperti ini. Pabrik itu masih saja
membuat polusi udara, malahan mereka bekerja dengan giat tanpa henti hingga
asap hitamnya pun mengepul tinggi menutupi awan. Desaku pun sudah bagaikan
habis dilanda bencana gunung berapi, asap hitam yang menggumpal seakan ingin
merubah langit menjadi hitam. “Mana para pembuat polusi itu? Apakah ini juga
belum membuat mereka sadar? kini kami
sedang kemiskinan udara bersih”. Sekarang dunia telah dilanda bencana, yang
dapat dilakukan hanyalah dengan menunggu kebaikan dari alam dan juga pencipta
alam.
Setelah menghadapi kesengsaraan yang
begitu menderita selama beberapa minggu terakhir, hari inilah hari yang menjadi
kebahagiaan bagi kami. Di desaku diguyur hujan yang sangat deras, debu-debu
serta asap hitam pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, aroma segar pun
mulai tercium kembali. Mungkin inilah kebaikan dari pencipta alam, ia masih
ingin manusia hidup dengan tenang tanpa masalah iklim yang melanda. Akhirnya,
pabrik-pabrik itu pun di tutup dan pindah ke tempat lain, karena masyarakat di
desaku mengusir mereka sebab merasa kedatangannya hanya membuat bencana. Polusi-polusi
udara pun telah hilang dan kondisi iklim pun mulai stabil. Mungkin, sekarang
bumi sedang tersenyum memandang kita.
Karya:
Yesita Lestary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar