Rabu, 04 Maret 2015

Yesita.Blog



Cerpen tema Lingkungan
         “Tersenyumlah Bumiku”
    
        Terlihat dari jauh kabut pucat yang menyelimuti dataran basah itu, dan matahari pagi pun mulai memancarkan sinarnya. Pada saat itu, aku sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Di sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh liar bagai peri-peri kecil yang sedang menemaniku, serta berjatuhan daun-daun kering dari pohon tempat aku berteduh. Aku tak bisa menahan rasa untuk menghirup aroma pagi yang segar.
     Lalu mataku menerka lebih jauh, kulihat tempat di ujung pepohonan sana sangat berbeda. Di sana terdapat  asap pucat yang mengepul tinggi seakan ingin menutupi awan putih di langit. Ternyata baru kusadari asap pucat tersebut berasal dari pabrik  industri yang baru-baru ini selesai dibangun dan mulai ber-operasi. Aku ingat ibuku pernah berkata, “Mereka telah mengambil lingkungan kita yang asri, Mita! Tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi”. Iya, mereka memang tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatan yang merusak keasrian lingkungan, mereka hanya ingin mendapatkan kekayaan tanpa memikirkan  apa yang akan terjadi pada suatu saat yang akan datang. Tidakkah mereka sadari? walaupun diam, tetapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis meratapi polusi-polusi yang datang untuk membunuh mereka. Berbagai bencana alam yang datang itulah bukti dari kemarahan mereka. Bukankah kita telah berhutang budi pada alam? sebenarnya kita harus merawat lingkungan alam dengan baik, agar tetap terawat sepanjang masa.
     Aku ingat pada beberapa bulan yang lalu, ketika bumi dilanda kemarau panjang dengan disertai kabut asap yang menyelubungi  alam. Saat itu manusia tidak dapat melakukan apa-apa, asap kotor yang dapat merusak pernapasan adalah masalah yang harus dihadapi selama berhari-hari. Manusia tak dapat menghirup udara bersih, bumi terasa panas, serta hewan-hewan pun juga ikut merasakannya. Langit telah bagaikan tempat gas pembuangan yang mengapung di atmosfer, tidak sedikit pun udara segar yang yang tercium.
     Tak terasa hari demi hari pun berjalan dengan cepatnya, ternyata hal yang  telah ku  prediksi pun terjadi. Saat ini di desaku tiba-tiba dilanda kemarau panjang. Hujan tak kunjung datang untuk menbasahi tanah, udara kotor dimana-mana, debu pun sudah bagaikan deburan ombak di pantai. Alam seakan sedang melampiaskan kemarahannya. Inilah akibat dari ulah manusia pembuat polusi itu,  Apakah mereka tidak sadar? Sedikit demi sedikit alam sedang menunjukkan kemarahannya. Telah berhari-hari di desaku mengalami cuaca seperti ini. Pabrik itu masih saja membuat polusi udara, malahan mereka bekerja dengan giat tanpa henti hingga asap hitamnya pun mengepul tinggi menutupi awan. Desaku pun sudah bagaikan habis dilanda bencana gunung berapi, asap hitam yang menggumpal seakan ingin merubah langit menjadi hitam. “Mana para pembuat polusi itu? Apakah ini juga belum membuat mereka sadar?  kini kami sedang kemiskinan udara bersih”. Sekarang dunia telah dilanda bencana, yang dapat dilakukan hanyalah dengan menunggu kebaikan dari alam dan juga pencipta alam.
     Setelah menghadapi kesengsaraan yang begitu menderita selama beberapa minggu terakhir, hari inilah hari yang menjadi kebahagiaan bagi kami. Di desaku diguyur hujan yang sangat deras, debu-debu serta asap hitam pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, aroma segar pun mulai tercium kembali. Mungkin inilah kebaikan dari pencipta alam, ia masih ingin manusia hidup dengan tenang tanpa masalah iklim yang melanda. Akhirnya, pabrik-pabrik itu pun di tutup dan pindah ke tempat lain, karena masyarakat di desaku mengusir mereka sebab merasa kedatangannya hanya membuat bencana. Polusi-polusi udara pun telah hilang dan kondisi iklim pun mulai stabil. Mungkin, sekarang bumi sedang tersenyum memandang kita.

Karya: Yesita Lestary

Tidak ada komentar:

Posting Komentar