Senin, 16 Maret 2015

Cerpen belaka: Salmona Adventure


Salmona Adventure*_*
                                        "Manusia ½ Salmona”
     Dibawah pohon yang rindang berwarna hijau, aku duduk bersandar sambil melihat Salmona dari kejauhan. Ternyata Salmona juga memandangku, aku pun segera berdiri dan berlari. Saat aku dikejar oleh Salmona, ternyata Salmona membawa pepaya. Pepayanya setengah busuk. Busuk pun Hati dirinya.
     Ketika saat itu, aku merasa beruntung.. karena aku menggunakan sepatu,,,, (bukan sandal). Sepatuku ya sepatu roda. Rodanya ada dua, dan bewarna hitam. Sepatunya berwarna hasil campuran warna MEJIKUHIBINIU (sepecies terbaru :D). "Sepatuku roda 2, kudapat dari abun {AyahBunda}, karna membeli sabun". Apaan sih ?? (-_-). 

      Whatt?? tiba-tiba hidungku kejang-kejang, *eehh salah, maksudnya nafas gua yang kejang-kejang. Aku tercengang melihat matanya yang indah berseri bagai lampu seri, dan sekilas melihat wajahnya yang berkilauan bagai kaca jendela. Setelah aku menatap dengan saksama dan penuh hati-hati, ternyata matanya diberi enam tetes "INSTO".
          Lanjut cerita, Salmona berlari dengan BERDUKACITAta mengejar diriku yang malang ini :'(.  Tiba-tiba terlintas di dalam gubuk hatiku,,, *ehh lubuk ^_^. " kenapa aku dikejar??? :/ KENAPA harus akuuu??? KENAPA enggak orang lain aza??".
       Ahh.. sudahlah. Ternyata aku baru tau answernya, ini sungguh sulit untuk diucapkan, tak mampu rasa diri ini untuk melakukan hal ini..,,, *TIDAKKKK!!!!. Ternyata Salmona sedang mengincar sepatu roda MEJIKUHIBINIU ku. Aku berjalan setapak demi setapak dan berpikir panjang x lebar x tinggi permukaan gelombang. Jika Salmona mendapatkan sepatu roda dari Abun ku ini, "Aku tak biaassaa,,.. bila ku jalan menapak aspal, aku tak biasa bilaku mengorbankan telapak kakikuuu..,, aku tak BIASA". Oh Tidaaakk!!! :O, tiba-tiba ada Ayu Banting "Biasanya kakimu tertutup,, biasanya kau tak beceker,,,.. sayanya bingung,, saya curiga,, TAAAKUTNYA kamu telah ga_dai_kan". OOHH tidakkkkkkk!!! :O
       Salmona terus berlari pontang-panting,ngambang-ngambang, sampe' tesungkur demi meraih piala marathon ..,, *emangnya lagi lomba,, hehehe . Maksudnya dia sedang berlari ngejar saya. Hingga akhirnya jarak gue sama dia hanya 1 kilometer pangkat dua*jauhh dongg ?? :O. Aku sangat takutt dang bimbang dan cemas dan sedih dan stress dan,, "akhirnyaaaaa ... Salmona mengerti,",, "Bahwa aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah.....,,". Melihat aku sedang bernyanyi unisono tadi,  salmona hanya tersenyum bagai bidadari pasir panjang :D. Whatt?? OM ENJI (OMG)!!!!! ,, Salmona hampir sedikit demi sedikit melangkahkan kakinya ke tanah suci *bercanda. Maksudnya mendekati diriku,,,,,, Hufftt..,, tiba-tiba..,,??? " TIba-tiba cinta datang kepadaku.. " .
        Dan akhirnya aku hanya bisa menyerah sambil membawa bendera putih ketika melihat sang Salmona mendekatiku, DAN,,,,,,,,,,,,
"ALLAHuakbar allahuakbar..,,,", tiba-tiba adzan berkumandang. 

Salmona pun langsung insyaf untuk selama-lamanya :)


*%$#@End..,,*%$#@
Tunggu episode lanjutan SepiSial nya :
"Salmona Jadi Kyai"



#AbaikanCeritaGakJelasIni

Anggap aja buat refreshing di lingkungan teras :D
+_+By: TarLinda(komunitas)

Pengarang : YL & ES
#apabilaCeritaIniGakNyambungMohonDiberhentikanMembacanya, TakutnyaNantiJadiBebanPikiran :)
#SayaHanyaMengingatkan. KalauMasihBerminat,YaudahLanjutinBacanya.AnggapSebagaiBentukApresiasiAndaTerhadapKaryaKami :D hehehe


Kita hanya ingin mengungkapkan jati diri "SALMONA"
^_^_^_^_^_________________________________________^_^_^_^_^

Rabu, 04 Maret 2015

Yesita Lestary..,,


   Cerpen tema: Pramuka
                  Dunia Kecil Dalam Kehidupan
   Kini Usiaku sudah menginjak dua puluh tiga tahun. Aku baru lulus dari akademi perawat di kota. Sekarang aku sudah belajar mandiri jauh dari orang tua, kakak perempuanku lah yang menemaniku tinggal disini. Aku sempat berencana akan pulang mengunjungi ayah dan ibu di desa, banyak terlukis kenangan indah di sana.
   Hari ini aku sangat senang… sekali, karena akan melepas rindu dengan bertemu ayah dan ibu. Hmm.. senang rasanya bisa kembali ke tempat kelahiran, walau hanya sementara. Tibalah aku di desa, suasana dan fanoramanya tidak ada yang berubah, hanya saja jalan transportasinya sudah sedikit mengalami perubahan. Udara segar masih tercium, air di sungai masih tampak jernih, serta tumbuhan hijau masih menghiasi sekitar pemukiman warga. Suasana damai selalu terpancar dari dulu higga sekarang. Pada saat diperjalanan menuju rumah lamaku, aku bertemu dengan segerombolan anak yg berjalan dengan rapi sesuai barisannya, mereka sangat kompak dengan seragamnya yg mirip tanah di bumi pertiwi ini. Tampak dari raut wajahnya ia sangat bersemangat. Ntah mengapa, tiba-tiba terlintas memory di otakku tentang masa-masa indah di sekolah dulu. Waktu sekolah, aku juga aktif dalam kegiatan PRAMUKA, terutama dalam jenjang sekolah menengah pertama. Bagiku, pramuka merupakan dunia kecil dalam kehidupan. Mengajarkan kita untuk mandiri, bekerja sama dalam bentuk team, dan yang terpenting adalah dapat mengenal banyak sahabat, bertemu dengan orang-orang baru, mengenal budaya-budaya baru. Sebenarnya anak-anak yang ikut pramuka cenderung  lebih aktif dan kreatif daripada anak-anak yang tidak ikut. Mereka terlatih untuk selalu aktif, dan selalu berpikiran yang positif. Hal yang paling kusuka dalam kegiatan pramuka adalah pada saat pelaksanaan perkemahan. Aku ingat ..,,,, “ Cepat angkut barang-barang kalian dari tenda, SEKARANG!!”, teriak kakak Pembina. Waktu itu, pada saat acara api unggun, terjadi hujan yang cukup deras dengan disertai guntur yang menggelegar. Kejadian ini mengakibatkan banjir hampir di seluruh kawasan perkemahan, tenda reguku juga ikut kebanjiran, terpaksa kami harus tidur di selasar kelas. Sungguh masa-masa yang tak terlupakan dalam hidup. Tak terasa sudah cukup lama aku dan kakakku berjalan menyelusuri desa, hingga sudah hampir sampai ke rumah. “Kak Nindy, kak Niaa…,,,”, terdengar suara Naila adik bungsuku. “Kak, ayah dan ibu sudah dari tadi menanti kakak.” . Aku pun segera masuk kedalam rumah lamaku, ayah dan ibuku sangat senang dengan kedatanganku, apalagi setelah mengetahui aku sudah lulus dari akademi perawat, mereka sangat senang bercampur haru. Senang rasanya bisa membuat orang tua bahagia.
   Setelah sudah 1 minggu aku kembali ke desa, aku berniat besok akan pulang ke Bandung, berat rasanya meninggalkan keluarga kecil ini. Keesokan harinya, tepatnya pada hari minggu. Siang itu juga aku sudah siap akan berangkat ke kota. Aku berpamitan kepada kakak, dan orang tuaku. Pada saat aku sudah di perjalanan menuju luar desa. Tiba-tiba…,,, “kak Nia..,,,!!”. “Kakak hati-hati ya di kota, dan jangan lupa berkunjung ke desa lagi…”. Ternyata pada saat itu adikku akan ke sekolah untuk mengikuti kegiatan perkemahan. “koq aku baru tahu ya kalau Naila juga senang pramuka seperti ku?”, gumamku dalam hati.     “ Iya..,,, kakak pasti akan tinggal lagi ke desa ini, tapi belum waktunya. Jika kakak sudah pergi ke kota, titip ayah dan ibu ya..,,”. “Dan jangan lupa!! Tanamkan jiwa Pramuka mu dari sekarang!!”
.                   oOo_The End_oOo           
Karya: Yesita Lestary

FB= Yesita Lestary
Tweet= @YesitaLestary

Yesita.Blog



Cerpen tema Lingkungan
         “Tersenyumlah Bumiku”
    
        Terlihat dari jauh kabut pucat yang menyelimuti dataran basah itu, dan matahari pagi pun mulai memancarkan sinarnya. Pada saat itu, aku sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Di sekelilingku tampak bunga-bunga kecil yang tumbuh liar bagai peri-peri kecil yang sedang menemaniku, serta berjatuhan daun-daun kering dari pohon tempat aku berteduh. Aku tak bisa menahan rasa untuk menghirup aroma pagi yang segar.
     Lalu mataku menerka lebih jauh, kulihat tempat di ujung pepohonan sana sangat berbeda. Di sana terdapat  asap pucat yang mengepul tinggi seakan ingin menutupi awan putih di langit. Ternyata baru kusadari asap pucat tersebut berasal dari pabrik  industri yang baru-baru ini selesai dibangun dan mulai ber-operasi. Aku ingat ibuku pernah berkata, “Mereka telah mengambil lingkungan kita yang asri, Mita! Tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi”. Iya, mereka memang tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatan yang merusak keasrian lingkungan, mereka hanya ingin mendapatkan kekayaan tanpa memikirkan  apa yang akan terjadi pada suatu saat yang akan datang. Tidakkah mereka sadari? walaupun diam, tetapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis meratapi polusi-polusi yang datang untuk membunuh mereka. Berbagai bencana alam yang datang itulah bukti dari kemarahan mereka. Bukankah kita telah berhutang budi pada alam? sebenarnya kita harus merawat lingkungan alam dengan baik, agar tetap terawat sepanjang masa.
     Aku ingat pada beberapa bulan yang lalu, ketika bumi dilanda kemarau panjang dengan disertai kabut asap yang menyelubungi  alam. Saat itu manusia tidak dapat melakukan apa-apa, asap kotor yang dapat merusak pernapasan adalah masalah yang harus dihadapi selama berhari-hari. Manusia tak dapat menghirup udara bersih, bumi terasa panas, serta hewan-hewan pun juga ikut merasakannya. Langit telah bagaikan tempat gas pembuangan yang mengapung di atmosfer, tidak sedikit pun udara segar yang yang tercium.
     Tak terasa hari demi hari pun berjalan dengan cepatnya, ternyata hal yang  telah ku  prediksi pun terjadi. Saat ini di desaku tiba-tiba dilanda kemarau panjang. Hujan tak kunjung datang untuk menbasahi tanah, udara kotor dimana-mana, debu pun sudah bagaikan deburan ombak di pantai. Alam seakan sedang melampiaskan kemarahannya. Inilah akibat dari ulah manusia pembuat polusi itu,  Apakah mereka tidak sadar? Sedikit demi sedikit alam sedang menunjukkan kemarahannya. Telah berhari-hari di desaku mengalami cuaca seperti ini. Pabrik itu masih saja membuat polusi udara, malahan mereka bekerja dengan giat tanpa henti hingga asap hitamnya pun mengepul tinggi menutupi awan. Desaku pun sudah bagaikan habis dilanda bencana gunung berapi, asap hitam yang menggumpal seakan ingin merubah langit menjadi hitam. “Mana para pembuat polusi itu? Apakah ini juga belum membuat mereka sadar?  kini kami sedang kemiskinan udara bersih”. Sekarang dunia telah dilanda bencana, yang dapat dilakukan hanyalah dengan menunggu kebaikan dari alam dan juga pencipta alam.
     Setelah menghadapi kesengsaraan yang begitu menderita selama beberapa minggu terakhir, hari inilah hari yang menjadi kebahagiaan bagi kami. Di desaku diguyur hujan yang sangat deras, debu-debu serta asap hitam pun sedikit demi sedikit mulai menghilang, aroma segar pun mulai tercium kembali. Mungkin inilah kebaikan dari pencipta alam, ia masih ingin manusia hidup dengan tenang tanpa masalah iklim yang melanda. Akhirnya, pabrik-pabrik itu pun di tutup dan pindah ke tempat lain, karena masyarakat di desaku mengusir mereka sebab merasa kedatangannya hanya membuat bencana. Polusi-polusi udara pun telah hilang dan kondisi iklim pun mulai stabil. Mungkin, sekarang bumi sedang tersenyum memandang kita.

Karya: Yesita Lestary